spot_imgspot_imgspot_img
Rabu, Juni 12, 2024
spot_imgspot_imgspot_img
BerandaSASTRACerpenGadis di Sudut Kelas

Gadis di Sudut Kelas

Oleh: Zainatul Faizah

 

Suara riuh siswa-siswi terdengar hingga ke penjuru sebuah bangunan minimalis yang bercat biru dengan kombinasi putih. SMA Abzari, begitulah nama plang yang tergantung tepat di depan bangunan minimalis itu. Lalu lalang para siswa memenuhi halaman yang cukup luas di sana. Pancaran mentari pagi membawa semangat tersendiri bagi siswa-siswi SMA Abzari.

Kringggg

Suara bel berbunyi, membuyarkan para siswa yang sedang bercengkerama di luar kelas. Setengah berlari, mereka melangkah ke arah kelas masing-masing. Setelah beberapa menit kemudian, para guru masuk ke dalam kelas beserta beberapa buku di tangan mereka.

“Selamat pagi,” sapa wanita paruh baya saat masuk ke dalam ruangan kelas berplang ‘X IPS 3’. Mengingat hari itu adalah hari pertama guru itu masuk, maka sang guru menjadikan waktu tersebut untuk perkenalan. “Ada yang ingin ditanyakan lagi?” ujarnya setelah ia menyebutkan data dirinya. “Gimana kalau sekarang giliran kalian?” lanjutnya sembari mengambil absen di atas meja, lalu membukanya.

“Baik, yang pertama … Jasmine,” ucapnya seraya mengedarkan pandangan ke seisi kelas guna mencari pemilik nama. Sang pemilik nama unjuk tangan, “Saya, Bu.” Netra guru paruh baya itu berhenti. “Oke, perkenalkan dirimu,” perintahnya sembari berjalan ke arah murid yang bernama Jasmine. Jasmine memperkenalkan dirinya. “Hmm, oke cukup.”

“Jasmine, wajah kamu mirip sama keponakan saya yang bernama Kimbasri. Dia anaknya pendiam, tapi pinter. Wajahnya persis banget sama kamu,” jelasnya  dengan senyum yang tercetak di bibir tipisnya.

“Kira-kira, di sini ada anak yang pendiam, `kah?” Ia mengedarkan pandangan ke seisi kelas. “Ada, Bu,” jawab salah satu siswa yang duduk di bangku paling belakang. “Ohh..,” ujarnya dengan mengangguk. Diam-diam tangan siswa tadi menunjuk ke arah siswi yang duduk di bangku paling pojok. Ia duduk sendirian, tanpa seorang teman. Setelah perkenalan, mereka pun memulai pelajaran.

“Baik, karena waktu kita sudah habis, kita cukupkan sampai di sini pelajaran hari ini, ya,”  tutup wanita paruh baya tadi sembari berjalan menuju meja guru. “Jangan lupa belajar ya,” pesannya kemudian lalu meletakkan absen dan mulai membereskan barang-barang miliknya.

“Baik, Bu.” Para siswa maupun siswi menjawab serempak. “Oke, saya akhiri kelas hari ini. Selamat siang,” pungkasnya dengan tersenyum lalu melangkah ke arah pintu keluar.

Suasana kembali ramai setelah tenang bebarapa saat. “Eh, kita ada tugas kelompok.” Siswa ber-nama tag Salsa berujar sembari berjalan ke depan menuju meja guru. Ia menarik perhatian teman-temannya dengan mengetuk penghapus ke atas meja. Penghuni kelas menatap ke arahnya. “Oke, aku bakal bagi kelompok buat tugas prakarya, ya.” Lalu tangannya mulai menulis sesuatu di papan tulis putih.

Tak selang beberapa lama, salah satu siswi berambut sebahu maju membisikkan sesuatu di telinga Salsa sambil sesekali melirik ke arah siswi yang duduk di bangku paling pojok. Sementara itu beberapa penghuni kelas lainnya ada yang tengah membaca buku, bercanda, tidur, ke kantin, ke kamar mandi, dan aktivitas lainnya. Setelah membisikkan sesuatu, siswi itu kembali duduk dengan senyum kemenangan.

“Akhirnya selesai …,” Salsa mundur seraya meletakkan spidol hitam di tempatnya. “Ayo, lihat kelompok kalian siapa aja!”

Para penghuni kelas menatap ke arah papan tulis putih. Beberapa juga memanggil teman-temannya yang berada di luar kelas. “Ihh, kok aku satu kelompok sama Bunga sih, dia kan ….” Pemilik suara itu tidak melanjutkan perkataannya, ia melirik ke arah Bunga, gadis yang duduk di bangku paling pojong sendirian. Sedangkan yang ditatap hanya diam.

“Udah-udah, ini tuh udah adil,” bela Salsa terhadap keputusannya. Ia melangkah ke arah bangkunya yang terletak paling depan.

“Hei! Memangnya kamu mau satu kelompok sama dia?” Siska, siswi yang sedari tadi menolak satu kelompok dengan Bunga protes lagi.

“Sis, kamu kenapa sih gak mau satu kelompok sama dia?” tanya Desi, salah satu teman baik Salsa bertanya. Suasana mulai panas.

“Des, kamu itu gak tahu atau pura-pura gak tahu sih?” Siska bangkit dari tempat duduknya. “Bunga itu kan gak bisa apa-apa, dia malah jadi beban buat kelompokku. Bukannya malah selesai tugasnya, malah tugasnya gak selesai-selesai kalau ada dia,” lanjut Siska dengan berucap  kasar, ia juga tak segan-segan menatap wajah Bunga. “Kenapa lihat-lihat?” Bunga kembali menunduk setelah Siska melemparinya tatapan tajam.

“Udah, ini udah keputusannku. Mau kalian mau atau gak mau satu kelompok itu bukan urusanku, tugasku cuma bagi kelompok aja!” seru Salsa, ia melangkah keluar kelas diikuti teman sebangkunya.

“Hei Bunga, aku gak mau satu kelompok sama kamu. Kamu cari kelompok lain aja atau kamu ngerjain sendirian aja!” Siska berkata tepat di hadapan Bunga dengan suara keras.

“I-iya,” jawab Bunga ketakutan. Lalu Siska menggebrak meja Bunga dengan cukup keras sebelum berlalu pergi.

_______

“Udah pulang?”

Bunga menganggukan kepalanya sebagai tanda jawaban kepada ibunya. Setelah melepas pakain, ia makan siang.

“Bu, aku boleh ngomong sesuatu?” Lalu Bunga meletakkan sendoknya.

“Ngomong aja,” jawab ibunya Bunga sembari mengusap bekas makanan di sudut bibirnya.

“Ibu, aku mau kuliah.” Sendok dalam genggaman ibunya Bunga dibanting kasar, Bunga diam menunduk.

“Udah berapa kali ibu bilang, sih?!” Perempuan paruh baya itu bangkit dari duduknya lalu  menatap Bunga tajam. “Dari pada kamu kuliah yang belum tentu jadi apa, mendingan kamu kerja aja!” Lalu wanita itu meninggalkan Bunga sendirian di meja makan karena kesal.

Huft ….” Hembusan napas menjadi respon Bunga atas sikap ibunya kepadanya. Bunga masih terduduk di meja makan sembil mengaduk-aduk makanannya.

“Ibu, Bunga pengen kuliah.” Ibu Bunga yang kembali karena harus mengambil ponselnya yang ketinggalan di meja makan tak sengaja mendengar ucapan Bunga. “Ibu … kayaknya aku bisa kuliah dengan bea-” ucapan Bunga langsung dipotong oleh ibunya.

“Bunga! Kamu pikir cari uang itu gampang? Hidup kita bisa enak kayak gini karena kerja keras ibu. Terus, sekarang, kamu minta buat sesuatu hal yang gak penting?” Perempun itu terus meneriaki Bunga dengan kata-kata kasar.

“Ibu, Bunga minta kuliah. Bunga bukan meminta sesuatu hal yang gak penting, Bu.” Bunga masih membela diri. Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Bunga. Dada Ratna-Ibu Bunga-naik turun, selang beberapa menit ia melangkah pergi seolah tak terjadi apa-apa. Kemudian Bunga berlari menuju kamar mandi, ia melihat pipinya kini berwarna merah akibat bekas tamparan.  Sebelum tetesan tangisannya semakin deras, Bunga segera menghapusnya cepat-cepat. Ia pun keluar dan masuk ke kamarnya.

_______

“Baik, Bu,” balas Bunga saat mendapat panggilan ke ruang BK ketika pelajaran masih berlangsung. Sesampainya di ruang BK, ia mendapati Bu Mila-guru BK-menampilkan raut wajah sedih.  Bunga pun berusaha menepis pikiran-pikiran buruk.

“Nak, sekarang ambil tas kamu.” Bunga nampak kebingungan. Namun, ia tetap bergegas naik ke kelasnya di lantai 2 lalu memasukkan buku-bukunya dan kembali ke hadapan Bu Mila. Tak lupa ia meminta izin pada guru yang mengajar di kelasnya.

“Nak, sekarang kamu pulang, ya. Tadi, ada kabar kalau ibu kamu kecelakaan,” ujar Bu Mila sembari mengelus kepala Bunga.

“Beneran, bu?” tanya Bunga kaget bercampur tidak percaya. Bu Mila mengangguk. Setelah berpamitan, Bunga pun bergegas pulang dan mengayuh sepedanya kuat-kuat. Matanya sudah tak tahan untuk tidak menangis.

“Ibu … Bunga rela gak minta kuliah asalkan ibu masih sama Bunga terus …,” gumam Bunga sembari terus mengayuh sepedanya. Sesekali ia menoleh ke arah belakang guna melihat ada kendaraan atau tidak karena ia berniat mempercepat kayuhan sepedanya.

Tak lama kemudian Bunga telah tiba di rumahnya. Namun Ia malah melihat banyak orang berlalu lalang di sana. Air matanya pun turun tak terbendung lagi saat pikiran-pikiran buruk terlintas di kepalanya. Ia melangkah cepat menuju rumahnya, tepatnya menemui ibunya. Baru saja langkahnya menginjak lantai ruang tamu, tangisannya justru semakin deras. Ia melihat tubuh ibunya terbujur kaku dibalik jarik. Ia langsung berlari dan menghambur memeluk tubuh tak bernyawa itu. Isak tangis mulai terdengar dari mulut Bunga. Beberapa orang berusaha menenangkannya dengan mengelus lembut punggung Bunga.

Beberapa jam kemudian, Bunga beserta para pelayat lainnya mengantar jenazah ibu Bunga menuju pemakaman. Mata Bunga masih nampak merah, ia juga masih sesenggukan. Bunga tak sanggup menahan isak tangisnya, saat jenazah ibunya dimasukkan ke dalam liang lahat, dan mulai ditutup kembali dengan tanah. Tetangga dekat Bunga berusaha menenangkan Bunga seperti sebelumnya.

Tiba-tiba setelah mendoakan jenazah, ada seseorang yang berlari ke arah pemakaman tepatnya ke arah para pelayat yang melayat jenazah ibunya Bunga. “Rumahnya Bunga kebakaran!” seru pria paruh baya itu. Bunga langsung menoleh ke arah sumber suara.

“Beneran?!” Seorang warga bertanya untuk memastikan kebenarannya. “Iya, benar, kami sendiri belum tahu apa penyebabnya.” Sebagian warga bergegas pulang guna membantu memadamkan api karena pemadam kebakaran masih dalam perjalanan. Sedangkan beberapa orang lainnya masih menemani Bunga.

Api berhasil dipadamkan beberapa jam kemudian namun tidak ada barang yang mampu diselamatkan. Salah seorang warga yang mengenal sosok ibunya Bunga, menceritakan sebuah fakta kepada Bunga. Ternyata selama ini, Ratna-Ibunya Bunga-mendapatkan kekayaan bukan dari hasil kerja kerasnya bekerja menjadi penjaga toko di pasar melainkan dari hasil kerja samanya dengan seorang dukun. Dukun tersebut menjanjikan kekayaan pada Ratna dengan syarat setiap malam Jum’at Ratna harus melakukan ritual pemujaan yang ditujukan untuk makhluk suruhan si dukun tersebut. Dengan perjanjian, jika Ratna meninggal harta itu akan lenyap, entah itu dengan cara kebakaran, perampokan, atau yang lainnya. Bunga yang mendengarnya, bertambah merasa sedih. Tetangga dekat Bunga pun meminta agar Bunga mau tinggal di rumah mereka.

 

-TAMAT-

Editor: Fira Kumala Devi

7 KOMENTAR

  1. 프라그마틱 게임은 iGaming 분야에서 선도적인 콘텐츠 제공 업체로 꼽힙니다. 모바일 중심의 다양한 포트폴리오와 최상급 엔터테인먼트를 선보입니다.
    프라그마틱플레이

    프라그마틱에 대한 글 읽는 것이 정말 즐거웠어요! 또한, 제 사이트에서도 프라그마틱과 관련된 정보를 공유하고 있어요. 함께 발전하며 더 많은 지식을 쌓아가요!

    https://e-trajet.net/hot/
    https://www.12315uh.cn/
    https://lotodarts.com/link/

  2. 현재 프라그마틱 게임은 iGaming에서 혁신적이고 표준화된 엔터테인먼트 콘텐츠를 제공하는 주요 제공 업체 중 하나입니다.
    프라그마틱 게임

    프라그마틱 슬롯에 대한 내용이 정말 도움이 되었어요! 더불어, 제 사이트에서도 프라그마틱과 관련된 정보를 찾아보실 수 있어요. 함께 지식을 공유해보세요!

    https://supervil.com/hot/
    https://www.12315nw.cn/
    https://pdlwqpd.weebly.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Senpus #PojokSastra

Senpus#pojokSastra

Jumpus#pojoksastra

Follow My

https://api.whatsapp.com/send/?phone=6285717777301

Baca Juga

UKM Pramuka UNHASY Adakan Pelatihan PPGD Penegak dan Pandega Se-Jombang

85
Moderatpers - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Universitas Hasyim Asy'ari (UNHASY), adakan Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) untuk para Penegak dan Pandega se-...

Lestarikan Budaya, UNHASY Gelar Festival Selama Dua Hari

3
Moderatpers.com - Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) menggelar festival dengan tema “Integritas Bahasa dan Budaya sebagai Identitas Bangsa” di kampus A UNHASY dari tanggal 29...

Jadi pembicara di Acara Webinar Nasional Unhasy, Azyumardi Azra : “Radikalisme tidak terikat agama,...

0
Möderatpers.com- Kamis, (17/06), Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Unhasy (BEM-U) mengadakan acara webinar nasional bertemakan “Peran Perguruan Tinggi Menghadapi...
Mengintip Isi Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy'ari

Mengintip Isi Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy’ari

0
Moderatpers.com – Selain dikemas dalam buku-buku paket yang dipelajari di sekolah, kisah sejarah datangnya Islam ke Nusantara juga bisa ditemukan di Museum Islam Indonesia...
Pendapat Gus Nadir Tentang Kontekstualisasi Aswaja dalam Menjawab Tantangan Dunia

Pendapat Gus Nadir Tentang Kontekstualisasi Aswaja dalam Menjawab Tantangan Dunia

0
Moderatpers.com - Nadirsyah Hosen (Rais Syuriah PCINU Australia & Akedimisi Indonesia) sampaikan kontekstualisasi Aswaja dalam menjawab tantangan dunia pada Minggu (13/02). Pendapatnya itu di...