spot_imgspot_imgspot_img
Minggu, Juni 23, 2024
spot_imgspot_imgspot_img
BerandaSASTRAPuisiSenpus #PojokSastra

Senpus #PojokSastra

-Semangat untuk diri yang sedang Rapuh-

HARI YANG MENDUNG

by: Rifda Alya Qonita

Sinar Mentari menatapku, dedaunan melindungi ku dari terangnya Matahari,
bunga bunga yang mewarnai hidupku
Dan suhu yang sempurna tuk menjalani hari

Aku berdiri dengan antusias
Menikmati waktu pagi yang begitu cerah
Boneka domba menatapku seolah memberi semangat padaku
Ku rentangkan tangan sambil menikmati suasana pagi ini

Andai setiap hari seperti ini
Aku akan semangat melakukan apapun
Hariku yang penuh warna
Membuatku semakin produktif setiap harinya.

suner: Google

HARAPAN YANG BARU TERLONTAR

by: Sandi Tri Nugroho

Pagi hari tiba
Mentari memancarkan sinarnya
Saatnya berdiri tegak
Menapakkan kaki
Memulai hari
Dengan sebuah harapan baru
Harapan baru yang terlontar di hari ini
Menjadi lebih baik dan lebih bahagia dari hari yang lalu
Kini harapan itu mulai terwujud
Hari ini lebih baik dan lebih bahagia dari hari yang lalu
Berwisata ke bukit
Berlari menapakkan kaki
ke bukit
Mendaki hingga ke puncak bukit
Di puncak bukit
Mendapatkan kebahagiaan
Dikelilingi hembusan angin dan udara dingin
Hari ini menjadi hari yang lebih baik dan lebih bahagia dari hari yang lalu.

sumber: doc.Pribadi

RUMAH TANPA WARNA

by: Dara-H

Disudut senja itu
Telah berdiri rumah tanpa warna
Berselimut bayang-bayang kelabu
Tak berjejak seperti kehampaan
Dindingnya menguning, juga terkelupas
Tanpa ada lukisan-lukisan yang tertata rapi pada sisinya
Sunyi sepi seperti lorong-lorong kosong tak bernyawa
Jendela terkunci pun pintu tertutup rapat
Seakan menahan cahaya yang engan masuk
Hanya untuk sekedar singgah
Kilas balik waktu pada masanya
Suara selalu terdengar setiap hari
Selimut kehangatan selalu terpancar pada setiap sisi bangunan
Teriring canda tawa penghuninya
Namun kini hanya sepi
Rumah itu telah mati
Kelabu penuh debu mengubur duka dan airmata.

sumber: AI

CERMIN WAKTU

by: Dara-H

Ku tatap bayangan diri dalam cermin purnama
Bayangan rapuh yang kadang hilang
Diantara mimpi dan kenyataan
Mencari arti hidup dalam keheningan

Jalan yang kulalui penuh liku
Terpancar tawa namun juga sendu
Hidup ini seperti topeng
Yang beguna menyembunyikan wajah aslinya

Dalam pikiran ku aku ingin terbang
Selayaknya burung yang terbang bebas diangkasa
Namun, hatiku berkata sebaliknya
Selayaknya rantai yang menahan kedua sayapku

Apa yang sudah kuberika pada dunia
Adakah kebebasan dan cinta yang kutaburkan?
Atau sekadar jejak tanpa tujuan?
Di dalam cermin purnama au bertanya
Siapakah aku sebenarnya?
Dibalik jejak liku dan topeng ini,
Adalah jiwaku yang masih sama?.

sumber: Pinterest

JIWA BERSERU KELU

by: Aysdha

Dalam tiap-tiap roda kehidupan
Luka dan tawa mengukir cerita
Ditengah sunyi kurenungkan segalanya
Apa yang telah, dan belum selesai kuselami

Tertanam dalam bayang-bayang diri
Rangkaian tanya yang menggema tanpa jeda
Siapakah aku dalam pusaran dunia?

Meski waktu terus menanjak tanpa henti
Namun, setertinggal apa aku dalam pandangan mereka?
Terus merangkai asa pada tiap-tiap hela nafas
Menumpuk mimpi yang sukar untuk terwujud

Di tengah naungan keputusasaan
Kudapati sebuah kenyataan
Bahwa pada setiap cerita, ada kegagalan yang tertakar
Dan tiap langkah adalah janji
Untuk terus maju, menerjang segalanya seorang diri

Maka, aku memilih untuk hidup lebih lama
Menerpa segala arus dari warna-warni fase kehidupan.

sumber: Pinterest

MERAJUT HARAPAN

by: Nafisaa

Di depan cermin itu aku bersimbah,
Meratap nasib yang tak pernah berubah,
Sesekali membual dengan rapuh,
Apakah benar aku yang payah?

Kini…
Kulihat bayangan jiwa yang meronta,
Memanggil namaku, mengurai luka,
Mencari arti dalam setiap langkah yang tertunda.

Lalu ku tatap hari esok dengan berani,
Meski langkah tak selalu pasti,
Namun, dalam hilang kutemukan jati diri,
Menyambut hari dengan penuh mimpi.

sumber: Pinterest

LEVANTER

by: Irma Isma

bumi berputar sendiri
telah menghabiskan banyak hari
tapi aku masih berlari
dengan kaki tercekat tali berduri

mengembara,
bersama kekosongan hati
menipu diri sendiri
meratapi keterlambatan ini

seperti daun daun luruh
terkubur salju hingga akhirnya terinjak injak
aku ingin bangkit mencari musim semi ku
meninggalkan emosi tertiup levanter

aku ingin menjadi diri sendiri
meninggalkanmu,
ternyata semuanya tepat didepan mata
sekarang aku tahu,
yang ku butuhkan adalah aku.

Jombang, 10 Juni 2024.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Senpus #pojokSastra

Senpus#pojokSastra

Jumpus#pojoksastra

Follow My

https://api.whatsapp.com/send/?phone=6285717777301

Baca Juga

Senpus (Senin puisi)

0
Tuhan dan rintihan ku Karya: Nasywa kamila nur firdausia Tuhan ingatkah Engkau Tentang tangis ku kala itu Tentang keputus asaan ku Yang tak berujung. Tentang takutku...

Indonesiaku Kampung Lautan Susu (Part II)

15
Baca juga Indonesiaku Kampung Lautan Susu (Part I) ... Akhir-akhir bulan ini hujan sering turun. Bahkan, aku jarang pergi ke sekolah. Penduduk yang tinggal di bukit...

Indonesiaku Kampung Lautan Susu (Part I)

5
  Suara kicauan burung yang amat merdu menyambut pagiku. Seperti biasa aku bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari Senin dan akan...

Senin puisi #1

0
Secangkir Kopi Tak BertuanKarya : Na'im Amanah   Secangkir kopi lebih apik dari pada sebuah rasaSibuk bergulat dengan sendirinyaHitam pekat masih asyik dari pada berdua tanpa...

FE UNHASY Sukses Gelar Yudisium Ke-VII, Dekan : Banyak Yang Akan Dihadapi, Terus Belajar

1
ModeratPers - Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) sukses menggelar acara yudisium ke VII tahun akademik 2022/2023. Kegiatan ini berlangsung di aula lantai...