spot_imgspot_imgspot_img
Kamis, Juni 20, 2024
spot_imgspot_imgspot_img
BerandaUNEK-UNEKOpiniKITA BUKAN MANUSIA NY(S)AMPAH

KITA BUKAN MANUSIA NY(S)AMPAH

moderatpers – Hari-hari ini jika kita belanja ke beberapa supermarket atau toko ritel lainnya tidaklah menyediakan kantong plastik, dan kita disarankan membawa kantong belanja sendiri yang tidak sekali pakai-buang. Ini menjadi salah satu upaya “berdiet” plastik, sebab sampah plastik sampai hari ini sangat mengkhawatirkan.

Tahun 2021, sebuah laporan yang diterbitkan oleh Our World in Data, sebuah proyek yang dipimpin oleh University of Oxford, menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara penghasil sampah plastik tertinggi di dunia setelah Tiongkok. Sumber data lainnya adalah laporan yang diterbitkan oleh Break Free From Plastic, sebuah koalisi global yang fokus pada masalah polusi plastik. Dalam laporan terbarunya pada tahun 2020, Indonesia juga menempati peringkat kedua setelah Amerika Serikat.

Jika kita flashback, masih diingat tragedi Leuwigajah tahun 2005, dimana gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi longsor mengubur sebanyak 143 orang. Selanjutnya tahun 2018 ditemukan seekor ikan Paus mati di Wakatobi, Sulawesi Tenggara dengan perut berisi 5,9 kilogram sampah yang didominasi sampah plastik. Sampai hari ini problem plastik juga belum menemukan solusi pemecahan yang signifikan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merilis data sampah sisa makanan pada tahun 2022 meningkat dibandingkan tahun 2021, dari 29,1% menjadi 41,8% dari total sampah keseluruhan yang ada di Indonesia.

Catatan tersebut menegaskan memang banyak dijumpai sampah di sekitar kita yang didominasi oleh plastik. Mulai dari bungkus jajanan, bungkus makanan, kantong belanjaan dan lain sebagainya. Peredarannya setara dengan peredaran konsumsi manusia di setiap harinya, dari konsumsi food sampai fashion.

Jika direfleksikan lebih dalam, sampah-sampah tersebut mau tidak mau adalah cerminan dari aktivitas konsumsi kita. Bisa jadi semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi pula sampah disisakan. Sebab, aktivitas konsumsi tersebut tidak dibarengi dengan cara memperlakukan sampah dengan tepat dan bijak.

Problem Modernisasi

Sampah adalah fenomena modernisasi. Mengapa demikian? Karena modernisasi  mendorong peningkatan produksi yang secara tidak langsung menggenjot konsumsi untuk menghabiskan produk-produk yang dihasilkan. Alhasil, konsumsi yang dilakukan semakin meningkat dan sayangnya tidak dibarengi dengan mekanisme cara menghabiskan sisa sampahnya, sehingga menyisakan sampah-sampah tersebut. Jika kita lihat ke belakang, cara hidup tradisional dulu menggunakan kemasan/bungkus yang tidak mencemari alam. Misalnya, penggunaan daun sebagai bungkus, kayu dan bahan alami lainnya sebagai pengemas yang ketika menjadi sampah mampu terurai oleh alam. Sehingga, problem sampah dengan sendirinya teratasi.

Berbeda dengan plastik yang dibuat untuk mempermudah kebutuhan manusia modern, justru menyisakan problema, karena plastik sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa terurai menjadi partikel kecil. Itulah mengapa, plastik memang bermanfaat, akan tetapi jika tidak dikelola atau tidak bijak dalam penggunaannya akan berubah menjadi masalah.

Atasi dari Akarnya

Penanganan sampah secara signifikan berkaitan dengan cara pandang terhadap sampah. Selama ini penanganan sampah hanya pada tujuan kebersihan saja, yaitu membuang sampah pada tempatnya. Jika demikian, maka langkah tersebut menunjukkan penanganan pada muaranya saja bukan pada akarnya. Selain itu, ketika membuang sampah ke tempat sampah dan mencukupkan sampai di situ, sebenarnya kita sedang mengalihkan persoalan kita kepada orang atau pihak lain. Kita tidak benar-benar menyelesaikan sampah tersebut, akan tetapi mengalihkan saja. Misalnya, ketika kita usai makan jajanan, kita membuang bungkus sampahnya ke tempat sampah. Itu artinya kita melimpahkan persoalan sampah kita pada tukang sampah yang bertugas membuang sampah pada pembuangan sampah besar yang artinya juga berarti melimpahkan sampah ke penanggungjawab pembuatan sampah besar, dan terakhir menumpuk di TPA. Sampai di situ sampah tidak benar-benar teratasi. Itulah mengapa, cara kita menangani sampah masih pada tingkat muara belum pada akar. Nyatanya, alih-alih bisa menangani sampah, kita malah menambah beban persoalan.

Tindakan semacam itu juga dikarenakan sikap dan mindset instan. Dengan tujuan praktis dan cepat, maka usai konsumsi kita membuang sampah pada tempatnya. Tidak lagi terpikir lebih lanjut kemana sampah itu akan bermuara.

Oleh karena itu, penyelesaian sampah harus berangkat dari akarnya bukan pada muaranya. Akar penyelesaian sampah adalah pada cara pandang kita terhadap sampah. Cara pandang inilah akar dari persoalan sampah. Sampah menjadi sampah ketika dipandang dan dinilai tidak berdaya atau tidak memiliki nilai guna. Maka, bungkus jajanan akan dibuang ke tong sampah usai habis isi-makanannya. Plastik belanjaan akan dibuang ke sampah usai diambil isi-belanjaannya. Karena dianggap sampah. Maka pada saat itu kita sedang nyampah. Tetapi akan berbeda, jika kita menganggapnya sebagai barang berdaya guna. Maka, bungkus jajanan bisa diolah kembali sesuai dengan kreativitas kita. Yang selama ini bungkus jajanan atau produk rumah tangga diolah menjadi hiasan atau kantong plastik bisa disimpan untuk digunakan kembali. Sehingga, tidak perlu meminta kantong plastik lagi ketika belanja.

Itulah mengapa perlakuan terhadap sampah adalah cerminan ego diri. Tidak terselesaikannya problem sampah adalah bukti ego manusia yang tidak lagi sanggup mendahulukan kepentingan bersama. Akan tetapi, mendahulukan kepentingan diri sendiri. Karena itu, problem sampah sebenarnya bisa jadi adalah problem pribadi. Dimana kita ingin terbebas dari sampah tanpa berpikir bagaimana sampah ini teratasi.

Untuk itu, mari kita bersama-sama merubah cara pandang kita terhadap sampah. Jangan menunggu orang atau pihak lain untuk mengatasinya. Meski pemerintah menargetkan Indonesia akan terkurangi sampahnya sebanyak 30 persen pada tahun 2025 melalui Program Indonesia Bebas Sampah 2025, mari kita mulai dari diri sendiri. Dengan menggunakan kantong plastik tidak sekali pakai untuk belanja, membawa wadah sendiri ketika membeli makanan di pinggir jalan, mengganti sedotan plastik dengan sedotan aluminium, dan seterusnya. Sehingga, apa yang pernah dikhawatirkan mantan menteri Susi Pudjastuti bahwa 2030 jumlah plastik di laut akan lebih banyak daripada ikan tidak akan terjadi. Selain itu, lingkungan menjadi asri dan bersih dari sampah. Mari berhenti menjadi manusia nya(s)mpah!

 

*Robi’ah Machtumah Malayati, Dosen Pengajar Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam (KPI) & Pembina UKM Pers Moderat Universitas Hasyim Asy’ari

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Follow My

https://api.whatsapp.com/send/?phone=6285717777301

Baca Juga

Rahasia dan Harapan dibalik angka 02.02.20

0
Moderatpers.com - Dibalik angka 02.02.20 mengisahkan duka mendalam bagi bangsa khususnya Tebuireng Jombang. Ya, Dr. Ir. KH Sholahuddin Wahid atau sapaan akrabnya Gus Sholah,...

Indonesiaku Kampung Lautan Susu (Part II)

13
Baca juga Indonesiaku Kampung Lautan Susu (Part I) ... Akhir-akhir bulan ini hujan sering turun. Bahkan, aku jarang pergi ke sekolah. Penduduk yang tinggal di bukit...

Terasastra #Bebas-1

8
"Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi cermin yang membuat kita berkaca-suka atau tidak...
Sepak Terjang Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Mendirikan Nahdlatul Ulama' di Tebuireng

Sepak Terjang Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Mendirikan Nahdlatul Ulama’ di Tebuireng

15
Moderatpers.com – Siapa yang tak kenal Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari? Sosok maha guru pendiri pondok pesantren Tebuireng dan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul...

Vandalisme Mahasiswa Unhasy

0
  Vandalisme sering dikaitkan dengan tingkat kedewasaan seseorang yang dinilai belum matang. Pada dasarnya vandalisme adalah ekspresi dari dalam yang tidak disalurkan dengan cara yang...