spot_imgspot_imgspot_img
Minggu, Juni 23, 2024
spot_imgspot_imgspot_img
BerandaBERITAKampusSejarah Berdirinya NU, Organisasi Islam Terbesar di Indonesia

Sejarah Berdirinya NU, Organisasi Islam Terbesar di Indonesia

Sumber Foto : nucirebon.or.id

LPM FUM – Berdiri sejak 95 tahun silam, Nahdlatul Ulama (NU) sudah mencetak generasi Nahdliyin di seluruh Indonesia dan bahkan dunia. Berdirinya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini, tidak terlepas dari peran para Ulama pada masa itu. Dikalangan santri dan para kiai, nama – nama tokoh pendiri NU memang sudah tidak asing lagi. Dan beberapa diantaranya juga dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Terlepas dari pandangan khalayak umum, asal muasal dan sejarah yang paling dikenal oleh para santri adalah Ketika salah satu santri K.H. Cholil (Bangkalan) yaitu Santri As’ad atau lebih dikenal dengan nama K.H. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), menyampaikan tasbih yang dikalungkan kepada dirinya dan mempersilakan K.H. Hasyim Asy’ari (Tebuireng) untuk mengambilnya sendiri dari leher beliau. Hal itu karena tasbih tidak tersentuh sedikit pun oleh tangan Kiai As’ad selama berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng.

Setelah tasbih diambil, Kiai Hasyim Asy’ari bertanya kepada Kiai As’ad: “Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?” Kontan Kiai As’ad hanya menjawab: “Ya Jabbar, Ya Qahhar”, dua asmaul husna tarsebut diulang olehnya hingga tiga kali sesuai pesan sang guru. Setelah mendengar lantunan itu, Kiai Hasyim Asy’ari kemudian berkata, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah”. Riwayat tersebut merupakan salah satu tanda atau petunjuk di antara sejumlah petunjuk berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

Akhir tahun 1925, Kiai As’ad kembali diutus Mbah Cholil untuk mengantarkan seuntai tasbih lengkap dengan bacaan Asmaul Husna (Ya Jabbar, Ya Qahhar. Berarti menyebut nama Tuhan Yang Maha Perkasa) ke tempat yang sama dan ditujukan kepada orang sama yaitu Mbah Hasyim. Petunjuk sebelumnya, pada akhir tahun 1924 santri As’ad diminta oleh Mbah Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng. Penyampaian tongkat tersebut disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa as.

Awalnya, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah dan langsung disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Mbah Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum Ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT. Sikap bijaksana dan kehati-hatian Kiai Hasyim dalam menyambut permintaan Kiai Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, di antaranya posisi Kiai Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa). Kiai Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional

Peran kebangsaan yang luas dari Kiai Hasyim Asy’ari itu membuat ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam. Hasil dari istikharah Kiai Hasyim Asy’ari dikisahkan oleh KH As’ad Syamsul Arifin. Kiai As’ad mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah Kiai Hasyim Asy’ari justru tidak jatuh di tangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab. Dari petunjuk tersebut, Kiai As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim.

Karena berdirinya NU merupakan respon dari berbagai problem keagamaan, peneguhan mazhab, serta alasan-alasan kebangsaan dan sosial-masyarakat. Sebelumnya, para kiai pesantren telah mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916 serta Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar pada 1918. Sebelumnya, Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1914 juga mendirikan kelompok diskusi yang diberi nama Tashwirul Afkar, ada juga yang menyebutnya Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran. Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.

Sejarah lahirnya, NU juga tak lepas dari pembentukan Komite Hijaz. Problem keagamaan global yang dihadapi para ulama pesantren ialah ketika Dinasti Saud di Arab Saudi ingin membongkar makam Nabi Muhammad SAW karena menjadi tujuan ziarah seluruh Muslim di dunia yang dianggap bid’ah. Selain itu, Raja Saud juga ingin menerapkan kebijakan untuk menolak praktik bermadzhab di wilayah kekuasaannya. Karena ia hanya ingin menerapkan Wahabi sebagai mazhab resmi kerajaan.

Rencana kebijakan tersebut lantas dibawa ke Muktamar Dunia Islam (Muktamar ‘Alam Islami) di Makkah. Bagi ulama pesantren, sentimen anti mazhab yang cenderung puritan dengan berupaya memberangus tradisi dan budaya yang berkembang di dunia Islam menjadi ancaman bagi kemajuan peradaban Islam itu sendiri.

KH Wahab Chasbullah bertindak cepat ketika umat Islam yang tergabung dalam Central Comite Chilafat (CCC) dibentuk tahun 1925 akan mengirimkan delegasi ke Muktamar Dunia Islam di Makkah tahun 1926. Kiai Wahab beberapa kali melakukan pendekatan kepada para tokoh CCC yaitu W. Wondoamiseno, KH Mas Mansur, dan H.O.S Tjokroamonoto, juga Ahmad Soorkatti. Namun, diplomasi Kiai Wahab terkait Risalah yang berusaha disampaikannya kepada Raja Ibnu Sa’ud selalu berkahir dengan kekecewaan karena sikap tidak kooperatif dari para kelompok modernis tersebut. Hal ini membuat Kiai Wahab akhirnya melakukan langkah strategis dengan membentuk panitia tersendiri yang kemudian dikenal dengan Komite Hijaz pada Januari 1926.

Pembentukan Komite Hijaz yang akan dikirim ke Muktamar Dunia Islam ini telah mendapat restu KH Hasyim Asy’ari. Perhitungan sudah matang dan izin dari KH Hasyim Asy’ari pun telah dikantongi. Maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar di Mekkah. Para ulama dipimpin KH Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz.

Namun setelah KH Raden Asnawi terpilih, timbul pertanyaan, siapa atau institusi apa yang berhak mengirim Kiai Asnawi? Maka lahirlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama (nama ini atas usul KH Mas Alwi bin Abdul Aziz) pada 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. Riwayat-riwayat tersebut berkelindan satu sama lain, yaitu ikhtiar lahir dan batin. Peristiwa sejarah itu juga membuktikan bahwa NU lahir tidak hanya untuk merespons kondisi rakyat yang sedang terjajah, problem keagamaan, dan problem sosial di tanah air, tetapi juga menegakkan warisan-warisan kebudayaan dan peradaban Islam yang telah diperjuangkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.



Penulis : Rokhimatul Inayah
Editor : Ahmad Faris Ihsan Syafri
Penerbit : Tim Media UKM LPM FUM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Follow My

https://api.whatsapp.com/send/?phone=6285717777301

Baca Juga

Prosesi Yudisium VI FE Unhasy

Fakultas Ekonomi Unhasy Sukses Gelar Yudisium Ke – VI secara offline

0
Moderatpers - Fakultas ekonomi universitas Hasyim Asy'ari (UNHASY) sukses menggelar acara yudisium ke VI tahun akademik 2021/2022 secara offline. Acara ini berlangsung di aula...
Foto : Suasana Belajar Bahasa Inggris Di Qur'an Village (Dok. Qur'an Village)

Pesantren Qur’an Village, Padukan Tahfidz Dan Bahasa Inggris Untuk Syiar Al-Qur’an Mendunia

3
moderatpers - Di era globalisasi ini, banyak pesantren yang sudah berkembang pesat mengikuti arus modern. Salah satunya Pondok Pesantren yang berlokasi di desa Bandung,...

Agar Silaturahim Kuat, FE Unhasy Adakan Acara Ekonomi Bersholawat

10
Moderatpers.com – Kamis, (04/11), Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ekonomi Universitas Hasyim Asya’ari (FE UNHASY) yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FE, berkolaborasi dengan...

Siap Laksanakan AMSP, FAI UNHASY Gelar Workshop Program Mengajar

8
Moderatpers - Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Hasyim Asy'ari (UNHASY) gelar acara workshop program mengajar di aula gedung A UNHASY pada Sabtu (24/09). Kegiatan...

R.A. Kartini, Sang Pelopor Bangkitnya Perempuan Pribumi

20
UKMP MÖDERAT -Penduduk peribumi adalah sekelompok orang atau keturunan dari penduduk asli, atau penduduk yang menjadi orang pertama yang menempati suatu tempat dan yang...