spot_imgspot_imgspot_img
Minggu, Juni 23, 2024
spot_imgspot_imgspot_img
BerandaBERITAKrisis Tenaga Kerja Pada Gapoktan Desa Bandung, Jombang

Krisis Tenaga Kerja Pada Gapoktan Desa Bandung, Jombang

Moderatpers.com – Krisis tenaga kerja pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang semakin tinggi. Buruh tani di desa tersebut sangat terbatas. Hal itu karena banyak yang memilih berwirausa dan bekerja ke luar kota di perkantoran daripada harus merawat ladang atau sawah.

“Jadi petani itu susah, banyak yang lebih memilih membuka usaha sendiri karena dianggap lebih mudah,” kata Siti Zainab, salah satu anggota Gapoktan Desa Bandung saat diwawancarai pada pada Jumat, (17/12).

Menanggapi hal itu, Istimarok Odif, (18) salah satu pemudi di Dusun Bandungsari, Desa Bandung mengungkapkan, bahwa ada 2 penyebab rendahnya minat para pemuda untuk menjadi petani di desanya itu.

Pertama, dikarenakan petani adalah pekerjaan yang harus dihadapkan dengan aktivitas yang berat, dan bekerja secara fisik. Hal ini mengakibatkan cara berpikir para pemuda berubah. Pemuda lebih memilih untuk bekerja kantoran di ruangan ber-AC daripada harus bekerja di bawah terik matahari.

Kedua, penyebab rendahnya minat pemuda menjadi petani dikarenakan oleh stereotip masyarakat sekitar yang memandang rendah seorang pemuda jika menjadi petani.

“Iya, banyak yang malu untuk menjadi petani muda, karena dianggap rendah oleh masyarakat sekitar, “ tegas gadis pribumi Desa Bandung itu.

Baca Juga : Dibalik Cerita Rofiq, Sukses Sebagai Peternak Ikan Koi

Istimarok Odif, (18) salah satu pemudi di Dusun Bandungsari, Desa Bandung saat diwawancarai oleh kelompok 2 PJTD UKMP Moderat.

Akibatnya, banyak pemilik lahan yang memperkerjakan orang luar desa dengan sistem bagi hasil sesuai dengan kesepakatan. Dari pengamatan tim redaksi yang dikutip dari berbagai sumber, dewasa ini memang banyak pemuda yang tidak memiliki minat menjadi seorang petani.

Hal ini terlihat dari rata-rata warga sekitar yang bekerja di sektor pertanian, yaitu kelompok usia 50 tahun ke atas.

Jika hal ini terus terjadi, menurut Istimarok, akan membawa dampak negatif bagi Indonesia kedepannya.

“Dampaknya pasti akan negatif, contohnya wilayah persawahan akan digeser perumahan dan industri. Terus nanti kita akan impor komoditas pertanian dari luar, “ jelasnya.

Baca Juga : Warga Memelihara Makam Mbah Ronggot, Sebagai Bentuk Rasa Terima Kasih Atas Jasanya Semasa Hidup

Melihat fenomena itu, Istimarok menyebutkan, bahwa cara untuk menghadapi krisis petani muda ini dapat dilakukan dengan mengubah mindset masyarakat sekitar, dan mulai melakukan inovasi-inovasi baru untuk dapat memajukan pertanian.

“Karena arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, harusnya para pemuda dapat mengembangkan inovasi-inovasi baru untuk memajukan pertanian,” tutupnya.

 

 

 

Kontributor : Kelompok 2 PJTD UKMP Moderat

Editor : Rokhimatul Inayah

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Follow My

https://api.whatsapp.com/send/?phone=6285717777301

Baca Juga

Pengaruh Media Sosial Terhadap Berkurangnya Minat Baca

0
Membaca adalah jendela dunia, karena dengan membaca maka manusia dapat mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya. Oleh karena itu, membaca adalah hal yang sangat...

Gus Nadir : Semua Sila dalam Pancasila Dapat Kita Lihat Penerapannya di Pesantren

0
Sumber gambar : Youtube BEMUNHASY UKMP MÖDERAT – Kamis, (22/04) Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (BEM-U) mengadakan acara Ramadan Edufest Mahasiswa bertajuk...
akjil, Makna Asli dan Penyerapannya dalam Bahasa Indonesia

Takjil, Makna Asli dan Penyerapannya dalam Bahasa Indonesia

13
Moderatpers.com – Siapa yang tak pernah mendengar istilah ‘Takjil’? Apalagi ketika bulan Ramadan tiba. Istilah takjil tentunya sudah sangat akrab di telinga, terutama masyarakat...

SATU TUJUAN

13
Titik demi titik tertoreh dalam buku kebesaranBuku penanda kehadiran individu berbeda yang haus ilmuTampak deretan-deretan nama di dalamnyaTanpa sadar, deretan itu tersusun menjadi satuSatu...

Jumpus#pojoksastra

3
Senja (merindu dalam sepi) by:Nafisatul Jingga merona mulai terlihat kembali, Saat mentari perlahan beranjak pergi, Tercipta hening yang merayap di hati, Membawa serta bayang-bayang sepi. Dalam senja yang sepi, ku...