spot_imgspot_imgspot_img
Rabu, Juni 12, 2024
spot_imgspot_imgspot_img
BerandaBERITAPeringatan Hari Santri dengan Edukasi di Unhasy“Peran Sejarah Untuk Memperkuat Eksistensi Santri...

Peringatan Hari Santri dengan Edukasi di Unhasy“Peran Sejarah Untuk Memperkuat Eksistensi Santri di Era Modern”

Moderatpers.com – Sabtu, (24/10/2020) BEM Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang menggelar gebyar edukasi sebagai peringatan hari santri nasional 2020 lewat webinar Nasional dengan tema “Peran Sejarah Untuk Memperkuat Eksistensi Santri di Era Modern”. Webinar yang mendatangkan narasumber yang berlatar belakang para ulama ini mengundang antusias peserta dari berbagai kalangan. Sukses, acara yang di ketuai oleh M. Abdullah ini memakan waktu kurang lebih 4 jam 30 menit, yang dimulai dari pukul 08.00 s/d pukul 12.30 WIB.

Pada sambutan awal, Ibu Nyai Hj. Munjidah Wahab selaku bupati Kabupaten Jombang menekankan agar santri di Indonesia berperan dalam membangun dan merawat NKRI serta berkontribusi pada negeri. Apalagi santri Jombang yang notabennya dikenal sebagai kota santri dan pesantren. Selanjutnya, sambutan Prof. Dr. H. Haris Supratno selaku rektor Unhasy yang menekankan bahwa peran santri dan para ulama tidak pernah terlepas dari sejarah sampai saat ini. Beliau menekankan tiga hal penting untuk mengahadapi modernisasi, yaitu karakter santri, moderat terhadap kemultikularan, dan Pendidikan kewirausahaan agar mampu berwirausaha sendiri menghadapi pasar bebas.

Keynote speaker yang diisi oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa (Gus Kikin) selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng melengkapi kekhidmatan acara. Beliau menuturkan sejarah dalam perspektif Al-Qur’an dan peran Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari dalam sejarah peradaban Indonesia yang juga sebagai pelopor revolusi jihad. Menurut beliau, para santri wajib mempelajari sejarah agar membuka wawasan kebangsaan dan menumbuhkan rasa cinta tanah air yang teramat dalam. Dengan begitu pula, ukhuwah Islamiah, ukhuwah wathaniah dan ukhuwah basyariah akan tetap berjalan di era modernisasi ini.

Pemaparan dari narasumber yang diawali oleh Prof. Dr. H. Agus Sunyoto, M.Pd selaku ketua LESBUMI PBNU dan Mustasyar PCILNU FREU mampu menggebrak pemikiran audiens. Beliau berbicara dari sudut pandang sastra dan filsafat mengenai kata santri sendiri yang oleh masyarakat pada umumnya diartikan sebagai gelar yang dilekatkan kepada murid-murid yang belajar di pesantren. Menurut beliau ada semacam diskomunitas sejarah yang kebanyakan orang tidak mampu mengartikan eksistensi itu sendiri. Beliau juga menjelaskan sejarah peradaban Pendidikan di Indonesia yang melalui lima tahapan penting, yaitu dari Sistem Pendidikan Padepokan Pada Zaman Kuno, Kemudian Sistem Pendidikan Asrama, Pendidikan Dukuh, Pendidikan Perguruan sampai pada Sistem Pendidikan Pesantren yang tak terlepas dari peran walisongo.

Kelima sistem Pendidikan tersebut dibangun diatas dua fondasi besar yaitu lalar (pengetahuan yang ada di akal) dan keweruh (dari hati atau bernilai intusi) kedua fondasi inilah yang di eksplor agar terbentuk keseimbangan. Di pesantren para santri ditekankan tentang tarbiyah (pembentukan jiwa) dan ta’lim (proses pemberian ilmu, pemahaman, tanggung jawab sehingga diri santri menjadi suci dan bersih dari segala kotoran dan mampu menerima hikmah, mempelajari hal-hal yang bermanfaat). Setalah pendikan pesantren inilah, pada masa kolonialisme Belanda, Indonesia baru mengenal Pendidikan sekolah, tepatnya pada tahun 1901 yaitu karena kebijakan politik etis atau politik balas budi. Sekolah yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme (pemikiran Aguste Coumte) ini mamicu munculnya golongan Islam modern di Indonesia, ditandai dengan banyaknya ormas-ormas Islam pada masa itu. Dewasa ini, menurut beliau, paham sekuler materialisme akan mulai tergeser oleh dunia pesantren yang diwariskan oleh para walisongo. Terbukti kontribusi santri saat ini yang tersebar dimana-mana, baik di pemerintahan, perkotaan sampai pedesaan.

Dr. (HC) KH. Husein Muhammad atau yang akrab disapa Buya Husein selaku anggota National Board Of International Center Of Islam And Pluralism (ICIP) dan Pakar Tafsir Gender Wanita menyebutkan peran ulama dalam membentuk karakter santrinya tercermin oleh empat ulama besar yaitu Hadratussyeikh KH. Hasyim Asya’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim dan KH. Bisri Sansuri yang juga berjuang pada masa penjajahan. Sebelum pemaparan lebih jauh, beliau menjelaskan proses masuknya Islam di Indonesia yaitu melalui tasawuf bangsa, fikih positivistik dan fikih plural, yang dewasa ini disalah tafsirkan menjadi fikih tunggal atau radikal konserfatif yang digemblengkan oleh kaum-kaum radikal seperti wahabi misalnya. Peran santri dalam mempelajari konteksualisasi kitab kuning menjadi halaqah penting bagi pesantren agar eksistensi pesantren tidak pudar. NU dan pesantren menjadi inisiator tentang isu-isu yang berkembang saat ini dengan mengabadikan nilai-nilai kepesantrenan seperti keikhlasan, rendah hati, kesederhanaan, ahlakul karimah dan adanya barakah itulah yang mampu membendung paham radikal.

Terakhir, pemaparan dari Dr. KH. Mif Rohim Syarkun, MA selaku Wakil Rektor III dan Pengasuh Ma’had Al-Jami’ah Universitas Hasyim Asy’ari yang menjelaskan mengenai fatwa dan resolusi jihad, ideologi keagamaan Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari yang perlu dipelajari, ditanamkan dan di implepmentasikan santri-santri millennial saat ini. Menurut beliau, pesantren tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Pendidikan di Indonesia. Pesan beliau dihari santri nasional ini adalah sebagai pemuda dan para santri harus mampu mempertahankan eksistensinya dengan mazhab-mazhab fiqhiyah dan ushuliyah serta bersikap tawasuth.

Sesi tanya jawab dan diskusi pun terbuka oleh para peserta yang berada di media tatap muka virtual atau zoom dan siaran langsung di youtube BEM Unhasy. Para narasumber, baik itu Pak Agus Sunyoto, Buya Husein dan Kyai Mif, bergantian mengutarakan argumennya menjawab pertanyaan audiens.

Editor : Aan Fauzi

Avatar photo
Rokhimatul Inayahhttps://campsite.bio/inayahzeen
Mahasiswi Unhasy yang sedang berproses menulis di UKMP Moderat dan Arusmedia.online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Follow My

https://api.whatsapp.com/send/?phone=6285717777301

Baca Juga

Hari Tentara Nasional

8
"Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan."-Sutan Syahrir Pasukan Loreng Oleh: Zanatul Faizah Mengabdi dengan sepenuh raga jiwa Berdiri bagai seorang penjaga Di lain waktu menjadi punggawa Sibuknya seperti...
pemira unhasy

Pemira Unhasy “Panas” Ig @bemunhasy disalah gunakan

100
Moderatpers.com – Kisruh PEMIRA Unhasy kembali memanas usai postingan demisioner Presiden Mahasiswa (Presma) BEM-U 2020/2021, Wahyu Al-Fajri di status WhatsAppnya pada Minggu, (19/09). Postingan...
Growth Mindset, Peluang Menuju Perubahan di Era Digital

Growth Mindset, Peluang Menuju Perubahan di Era Digital

0
Moderatpers.com – Mamik Rosita, S. Ag., M. Pd.I (Pengawas PAI SMP/SMA/SMK Kemenag Kab. Jombang) sebut growth mindset – pola pikir berkembang merupakan peluang menuju...

KSPM GI BEI FE UNHASY, Adakan Sosialisasi KSPM Kepada Mahasiswa Semester 1 Dan 3

0
Moderatpers.com –Kelompok Studi Pasar Modal Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Fakultas Ekonomi Universitas Hasyim Asy’ari (KSPM GI BEI FE UNHASY) mengadakan acara Sosialisasi KSPM...

Jum’at Puisi (JumPus) #Bebas-8

41
“Jangan bersedih. Segala sesuatu yang hilang darimu akan datang kembali dalam bentuk yang lain” -Jalaluddin Rumi Pujangga Gila Oleh: Helfi L Katanya, cinta bisa membuat buta Tapi aku tak...