spot_imgspot_imgspot_img
Rabu, Juni 12, 2024
spot_imgspot_imgspot_img
BerandaUNEK-UNEKArtikelPeringatan 1 Juni Sebagai Hari Lahirnya Pancasila

Peringatan 1 Juni Sebagai Hari Lahirnya Pancasila

Möderatpers.com – Sejarah lahirnya Pancasila tentu tak akan lepas dari adanya pidato Ir. Soekarno hingga rumusan yang diusulkan oleh panitia Sembilan. Bung Karno, presiden pertama Indonesia mengemukakan konsep awal Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia, tepat pada tanggal 1 Juni 1945. Pancasila sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta yaitu panca artinya lima dan sila berarti sendi atau alas dasar.

Gagasan yang dikemukakan oleh Bung Karno itu disampaikan dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau yang kita kenal dengan sebutan Badan Penyeledik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Namun sebelum itu, jika kita menilik sejarah awalnya ialah bermula dari kekalahan Jepang pada perang pasifik atau Perang Dunia II.

Pada saat itu, Jepang berusaha mendapatkan hati masyarakat Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan dan membentuk sebuah Lembaga yang tugasnya untuk mempersiapkan hal tersebut. Lembaga tersebut adalah BPUPKI. Lembaga tersebut resmi dibuat oleh Jepang pada tanggal 1 Maret 1945. BPUPKI memiliki tugas untuk mempelajari dan memeriksa hal-hal yang krusial dalam pembentukan negara Indonesia yang merdeka.

BPUPKI melakukan sidang pertamanya pada tanggal 29 Juni 1945. Berlokasi di Gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila), para anggota yang hadir membahas mengenai tema dasar negara Indonesia kedepannya dan persiapan kemerdekaan Indonesia, antara lain syarat-syarat hukum berdirinya suatu negara, bentuk negara, pemerintahan negara, dan dasar negara. Dasar negara kala itu menjadi salah satu pembahasan pada sidang pertama BPUPKI yang berlangsung dari tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945.

Pada hari ketiga sidang, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasan tentang dasar negara. Ia menyampaikan tentang dasar negara Indonesia merdeka, yaitu Pancasila. Siapa sangka, bahwa pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu, diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI.

Sebelum Bung Karno berpidato mengutarakan gagasanya, tanggal 29 Mei Mohammad Yamin yang merupakan seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum telah mengajukan usulan mengenai calon dasar negara secara lisan yang terdiri atas lima hal, yaitu :

1.Peri Kebangsaan
2.Peri Kemanusiaan
3.Peri Ketuhanan
4.Peri Kerakyatan
5.Kesejahteraan Rakyat

Ia juga menyampaikan usulan secara tertulis, yaitu:

-Ketuhanan yang Maha Esa
-Kebangsaan persatuan Indonesia
-Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab
-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Keesokan harinya, pada tanggal 31 Mei 1945, Soepomo yang merupakan seorang ahli hukum juga memberikan gagasannya. Soepomo yang hingga kini kita kenal sebagai seorang pahlawan nasional Indonesia dan dijuluki sebagai arsitek UUD 1945 bersama dengan Mohammad Yamin dan Soekarno mengusulkan lima rumusan untuk dijadikan dasar negara, yaitu:

-Persatuan
-Kekeluargaan
-Keseimbangan lahir dan batin
-Musyawarah
-Keadilan rakyat

Keeseokan harinya, Soekarno mengemukakan gagasannya yaitu:


-Kebangsaan Indonesia
-Internasionalisme dan perikemanusiaan
-Mufakat atau demokrasi
-Kesejahteraan sosial
-Ketuhanan yang Maha Esa

Selain itu, Bung Karno juga mengusulkan tiga dasar negara yang diberi nama Ekasila, Trisila, dan Pancasila. Dimana akhirnya dasar negara yang dipilih adalah Pancasila. Setelah secara resmi diterima sebagai dasar negara, kemudian diterbitkan beberapa dokumen penetapannya, yaitu:

Rumusan pertama:

1. Piagam Jakarta (Jakarta Charter) tanggal 22 Juni 1945
2. Rumusan kedua: Pembukaan UUD tanggal 18 Agustus 1945
3. Rumusan ketiga: Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat tanggal 27 Desember 1949
4. Rumusan keempat: Mukadimah UUDS tanggal 15 Agustus 1950
5. Rumusan kelima: Rumusan kedua yang dijiwai oleh rumusan pertama (merujuk pada Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

Diantara dokumen-dokumen tersebut, rumusan yang sah berdasarkan sistematis yang benar terdapat pada UUD 1945 dan di sahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Instruksi No.12/1968 pada tanggal 13 April 1968. Isi dari instruksi tersebut menegaskan bahwa tata urutan Pancasila yang sah adalah sebagai berikut:

1.Ketuhanan yang Maha Esa
2.Kemanusiaan yang adil dan beradab
3.Persatuan Indonesia
4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan/perwakilan
5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Keputusan tersebut berdasar pada kelanjutan dari BPUPKI yang membentuk panitia kecil yang disebut Panitia Sembilan untuk merumuskan Pancasila dan menyusun UUD yang berpedoman pada pidato Bung Karno. Panitia Sembilan terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin. Panitia Sembilan itu di bentuk untuk menyempurnakan rumusan Pancasila dan membuat UUD yang berlandaskan kelima asas tersebut.

Sedangkan, ditetapkannya 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila belum lama ini dan baru mencapai usia setengah dasawarsa. Melalui Keppres Nomor 24 Tahun 2016, Pemerintah menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus Hari Libur Nasional. Rakyat Indonesia antusias dan kerap merayakan hari lahirnya Pancasila tersebut dengan melakukan upacara bendera, grebeg Pancasila di Blitar yang menjadi tempat kelahiran dan wafatnya Soekarno, Kirab insan Pancasila di Yogyakarta, Teater “Percakapan Langit dan Bumi di Bali, Layang-layang kebangsaan di Yogayakarta, dan berbagai acara lainnya seperti pembacaan doa dan refleksi hari Pancasila.

Dengan peringatan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, tentunya bukan hanya sebagai peringatan tertulis dalam dokumen resmi saja. Melainkan, dapat melakat dan mandarah daging nilai-nilainya di dalam setiap individu di bumi Pertiwi ini. Karena dengan Pancasila lah Indonesia mampu menjadi negara yang multikultur dan saling menghargai satu sama lain.

Penulis : Rokhimatul Inayah
Penerbit : Tim media Ukmp MÖDERAT

11 KOMENTAR

  1. Heya this is kinda of off topic but I was wanting to know if blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code with HTML. I’m starting a blog soon but have no coding expertise so I wanted to get guidance from someone with experience. Any help would be enormously appreciated!

  2. You actually make it seem really easy with your presentation but I to find this topic to be really something that I feel I would by no means understand. It sort of feels too complicated and extremely wide for me. I’m looking forward to your subsequent post, I’ll try to get the cling of it!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Follow My

https://api.whatsapp.com/send/?phone=6285717777301

Baca Juga

Lomba Menghias Tumpeng di Peringatan Isro’ Mi’roj

0
Moderatpers.com - Himpunan Mahasiswa Prodi Teknik Informatika (HMP TI), Himpunan Mahasiswa Prodi Sistem Informasi (HMP SI) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Informatika (BEM...

Kata Mereka Soal Wisuda Online

12
Moderatpers.com - Wisuda Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang 2021 telah dilaksanakan untuk pertama kalinya secara online pada Minggu (31/10). Dikatakan pertama kali secara...
akjil, Makna Asli dan Penyerapannya dalam Bahasa Indonesia

Takjil, Makna Asli dan Penyerapannya dalam Bahasa Indonesia

6
Moderatpers.com – Siapa yang tak pernah mendengar istilah ‘Takjil’? Apalagi ketika bulan Ramadan tiba. Istilah takjil tentunya sudah sangat akrab di telinga, terutama masyarakat...
https://pin.it/62Ympde

Cerpen : Wajah Terakhir

1
Subuh buta. Irul melihat wajah Emak nan kuyu yang dulu ayu. Sekarang, tampak memutih rambut, dan wajah semakin keriput. Ia takut, wajah itu kelak...
KH. Musta'in Syafi’i : Al Aman Qoblal Iman

KH. Musta’in Syafi’i : Al Aman Qoblal Iman

0
Moderatpers.com – Pakar ilmu tafsir sekaligus Mudir I Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng, KH. Musta'in Syafi'i, M.Ag menjelaskan pentingnya mencegah radikalisme dengan kata “Al...